Waspadai! Stres Bisa Jembatani Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

15 Sep 2018
Ilustrasi: ngopibareng.id

Pernahkah Anda berada di situasi yang sangat pelik, mengalami krisis, bingung menentukan arah, tapi malah jalan buntu yang Anda temui? Sampai-sampai "Ah stress!!!" menjadi satu-satunya kata yang dapat Anda ucapkan.

Stres memang kerap kali muncul dalam kehidupan sehari-sehari. Ketika mempersiapkan diri untuk ujian, wawancara kerja, menuju pernikahan, menemukan hal yang sukar, atau bahkan bertemu dengan mantan pacar. Banyak hal yang dapat membuat kita merasa stres.

Hal ini lumrah adanya, sebab tubuh kita memang dapat mendeteksi dan bereaksi terhadap stres. Bahkan, stres bisa juga bersifat baik. Namun, stres bisa jadi berbahaya bila bersifat kronis.

Stres adalah respon kita untuk menghadapi atau lari dari suatu keadaan. 

Hipotalamus di otak adalah salah satu bagian yang bertanggung jawab untuk mendeteksi penyebab stres (stressor) atau untuk memahami adanya ancaman. Setelah menentukan bahwa suatu hal adalah stressor, hipotalamus akan mengirimkan sinyal ke kelenjar adrenal yang terletak di dekat ginjal untuk melepaskan dua jenis hormon. Yaitu hormon kortisol dan adrenalin.

Hormon Adrenalin meningkatkan denyut jantung dan pasokan energi Anda, sementara kortisol meningkatkan konsentrasi glukosa dalam aliran darah Anda. Glukosa merupakan sumber bahan bakar tubuh untuk menghasilkan energi. Dengan demikian, Anda dapat langsung bereaksi terhadap stressor atau ancaman. 

Sebagai contoh, jika Anda sebentar lagi akan melakukan ijab kabul dan ini adalah kali pertama Anda. Memungkinkan apabila tiba-tiba muncul perasaan gugup. Jantung Anda berdebar lebih kencang dan keluar keringat dingin. Namun, setelahnya ijab kabul selesai, stressor akan perlahan menghilang. Hormon adrenalin, biasanya kembali ke tingkat normal.

Namun, apabila stressor terdeteksi hampir sepanjang waktu, bukan hanya pada momen-momen tertentu. Hal ini akan menimbulkan masalah pada kesehatan Anda, sebab tubuh akan terus-menerus memproduksi adrenalin dan kortisol.

Ketika kelenjar adrenal menghasilkan hormon-hormon tersebut lebih dari yang seharusnya, bisa jadi Anda sedang mengalami stres kronis. Setiap orang, memiliki respon tubuh yang berbeda - beda. Parahnya, stres kronis dapat bermuara pada penyakit jantung dan pembuluh darah.

Hormon adrenalin dan kortisol yang berlebih, menyebabkan sistem pencernaan Anda jadi tidak berfungsi dengan normal, merasa lelah atau lesu, metabolisme menjadi lebih lambat, dan program penurunan berat badan yang mungkin sedang Anda lakukan, menjadi lebih sulit. 

Selain itu, hormon adrenalin dan kortisol yang berlebihan, dapat mengubah cara kerja hormon lainnya di dalam tubuh, termasuk insulin dan hormon reproduksi. Terlebih, bisa juga menyebabkan kadar glukosa dalam aliran darah akan naik, karena hati dipaksa untuk memproduksinya. Kondisi ini pada akhirnya dapat menyebabkan sindrom metabolik dan diabetes tipe 2

Kadar hormon yang tinggi, dapat membuat Anda lebih rentan terkena infeksi dan beberapa jenis penyakit lain karena hormon menekan hal-hal yang yang dianggapnya tidak penting untuk dipertahankan, seperti misalnya sistem kekebalan tubuh Anda. 

Yang terparah, stres akut dapat menyebabkan kolesterol dan trigliserida naik. Dengan kata lain, stres dapat menjadi jembatan dan  meningkatkan risiko terserang penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). Maka sebaiknya, jangan memelihara stres Anda terlalu lama, berlatih pernapasan, banyak melakukan konseling, dan tidur cukup adalah yang paling dianjurkan oleh beberapa ahli untuk menangani stres secara tepat.(tis)



Bagikan artikel ini