Swinger dari Sudut Psikologis

11 Oct 2018
Foto: riauaktual.com

Polisi mengungkap kasus pertukaran pasangan atau swinger pada Selasa 9 Oktober 2018 lalu. Kasus ini melibatkan 3 pasang suami istri (pasutri) dan dilakukan di Surabaya. Eko, tersangka dalam kasus ini mengatakan, hal itu dilakukannya karena menginginkan sensasi saja. 


Secara psikologis perilaku bertukar pasangan ini, tidak bisa semata-mata disebut sebagai penyimpangan individu. Khususnya dalam kasus Eko, yang menyatakan bahwa tindakannya atas dasar kemauan bersama. Tanpa paksaan.

Swinger dapat menjadi tanda penyimpangan psikologis seseorang apabila pelakunya bertujuan menyakiti. Sengaja menunjukkan sikap tidak setia, untuk memperoleh kepuasan karena berhasil menyakiti pasangan.

Indri Putri Waskithasari, M.Psi., Psikolog di Rumah Sakit Husada Utama mengatakan, "Dari sudut pandang psikologis. Mereka yang melakukan hubungan seksual tidak seperti umunya, tidak bisa langsung dianggap menyimpang individunya. Tapu secara sosial, norma, dan agama, iya. Sudah jadi kesepakatan umum, berganti-gantian pasangan dalam berhubungan seksual itu diaebut sebagai penyimpangan. Tapi kalau secara psikologis, tidak bisa melulu dianggap begitu, apalagi kalau pelakunya melakukan itu atas kemauannya sendiri."

Manusia adalah makhluk pembelajar. Sehingga tidak heran, apabila manusia suka mencoba melakukan hal-hal baru. Termasuk dalam hal berhubungan seksual. Indri menyebutkan dalam kasus swinger, ada beberapa motif yang membuaf pasutri melakukannya. Pertama karena suami dan/atau istri memiliki jiwa petualang yang tinggi, mengalami kejenuhan, atau adanya masalah relasi antar suami istri.

Untuk mengetahui penyebab pasutri melakukan swinger perlu dilakukan pendekatan dan assessment mendalam. Sehingga dapat diketahu bagaimana jalan keluar terbaiknya. Komunikasi yang tuntas dan membenahi atau menata relasi suami istri dapat menjadi tips untuk menghindari perilaku seksual yang dinilai menyimpang dalam norma dan agama.



Bagikan artikel ini