Swinger: Dampaknya Pada Anak

11 Oct 2018
Foto: futuready

Polisi berhasil mengungkap kasus swinger yang dilakukan 3 pasangan suami istri di sebuah hotel bintang tiga, di Surabaya, pada Selasa 9 Oktober 2018 lalu. Yang tak habis pikir, Eko, tersangka dalam kasus itu, melibatkan juga istrinya yang sedang mengandung.


Secara psikologis, perilaku seks bertukar pasangan ini tidak dapat semata-mata disebut sebagai penyimpangan psikologis individu. Apalagi pada kasus Eko, swinger dilakukan atas dasar kemauan bersama, tidak memaksa.

Kendati demikian, perilaku seksual yang tidak biasa ini dapat berpengaruh pada anak pelakunya. Namun, Indri Putri Waskithasari, M.Psi., Psikolog di Rumah Sakit Husada Utama mengatakan, bahwa dampak yang didapat oleh masing-masing anak akan berbeda. Hal itu tergantung pada kemampuam self copying sang anak dan pola asuh serta pendidikan dari orang tua.

"Mengetahui orang tuanya punya perilaku seksual yang dinilai menyimpang secara norma, apalagi sampai digerbek, tentu akan mempengaruhi anak. Pengaruhnya bisa macam-macam, mulai dari shock sampai mengalami krisis kepercayaan," tutur Indri.

Anak yang dari kecil merasakan  kasih sayang keluarga dan mendapatkan pemahaman tentang norma-norma sosial dan agama yang baik, tentu akan kaget. Mendapati orang tuanya berperilaku terbalik dari apa yang pernah diajarkan kepadanya, dapat membuat pola pikir dan perasaannya bergolak.

Pergolakan yang dialaminya dapat menimbulkan dampak yang lebih parah. Ia mungkin akan jadi sulit mempercai teman atau lawan jenisnya. Terlebih, memungkinkam juga anak jadi sulit bahkan tidak lagi mempercayai orang tuanya.

"Pola asuh, akan sangat berpengaruh pada bagaimana anak menyikapi sesuatu di masa depan. Termasuk ketika megetahui orang tuanya melakukan kesalahan, anak akan bereaksi sesuai apa yang pernah diajarkan orang tuanya. Namun, kemampuan penalaran anak juga akan berpengaruh pada bagaimana ia bersikap," tutur Indri.



Bagikan artikel ini