Pernikahan Dini Bisa Sebabkan Stunting

03 Dec 2018
Prof. Dr. Merryana Adriani, S. KM., M. Kes

Stunting adalah kekurangan gizi pada balita yang berlangsung lama, dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak.

Stunting disebabkan oleh kekurangan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan dari janin hingga usia 24 bulan. Kondisi ini menyebabkan perkembangan otak dan fisik terhambat, rentan terhadap penyakit, sulit berprestasi, dan saat dewasa mudah menderita obesitas sehingga berisiko terkena penyakit jantung, diabetes, dan penyakit tidak menular lainnya.

Menurut Prof. Dr. Merryana Adriani, S.KM., M. Kes, stunting di indonesia juga banyak terjadi akibat pernikahan dini, pernikahan dibawah usia 17 tahun, khususnya wanita.

"Si ibu sedang tumbuh sementara dia juga sedang hamil. Saat organ-organ tubuhnya belum siap untuk melahirkan anak, dia melakukan butuh asupan untuk si ibu dan bayinya sekaligus, inilah yang menyebabkan si bayi tidak diperhatikan sejak dalam kandungan," ujar dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair ini.

Padahal saat masa kehamilan, lanjut Merryana, janin harus mendapat asupan yang lengkap. Agar sel otak berkembang baik saat dikandungan dan mereka tidak terlahir dengan kekurangan gizi yang memicu kondisi stunting serta tidak terlahir cacat. 

Guru besar Unair ini menuturkan pernikahan dini di indonesia, khususnya di Jawa Timur sendiri masih tinggi. Hal ini dipengaruhi faktor budaya sampai faktor dorongan seks dari dirinya sendiri. 

"Saat saya ke Madura beberapa waktu lalu, disana itu banyak sekali pernikahan dini karena budaya menghindari zina, lain halnya dengan Bondowoso, disana banyak pernikahan dini karena perempuan ingin bebas dari rumah orang tuanya dan bekerja sebagai buruh dengan UMR Rp4 juta. Tapi mereka lupa perempuan yang menikah harus siap untuk hamil dan punya anak, banyak orang tak sadar akan hal ini," ungkapnya.

 

 

Faktor pendidikan juga penting disini, biasanya pernikahan dini terjadi saat seorang remaja baru lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) atau belum lulus bahkan. Ini akan membuat mereka kekurangan edukasi tentang menikah, hamil dan merawat bayi. 

"Semakin rendah pendidikannya, dia tidak tahu bagaimana memberikan asupan gizi pada anak yang benar, sehingga besar potensi bayinya mengalami stunting," kata Merryana.

Dia pun menegaskan bahwa seorang wanita yang akan menikah, memang harus matang dari segi umur dan pemikiranya. Seorang ibu harus bertanggung jawab untuk membentuk seorang anak dari sisi mental maupun psikis. 

"Kita sebagai wanita harus tahu benar apa tugas kita, kalau memang belum siap menikah yang jangan menikah dulu, senang-senang dulu, lakukan apa yang ingin dilakukan, tapi juga harus diingat bahwa wanita punya masa reproduksi.Sehingga saat seorang wanita menikah dia harus fokus dalam mendidik anakanya," tutur Merryana. (pts)



Bagikan artikel ini