Mengenali Nyeri Haid Primer dan Sekunder

15 Apr 2019
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgin), dr. Relly Yanuari Primariawan,Sp.OG (K) dalam talkshow kesehatan. (Foto: Pitasari/ngopibareng.id)

Hampir 90 persen wanita pasti pernah mengalami nyeri saat haid atau datang bulan. Rasa nyeri pun beragam dari mulai ringan sampai membuat Anda tak bisa beraktivitas karena nyeri haid. Lalu apa yang sebenarnya terjadi saat nyeri haid? 

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgin), dr. Relly Yanuari Primariawan, Sp.OG (K) mengungkapkan nyeri haid atau biasa dikenal dengan istilah dysmenorrhea. Terbagi menjadi primer dan sekunder. 

"Nyeri haid primer adalah nyeri haid yang tidak memiliki kelainan. Biasanya terjadi pada remaja dan orang tua sering mengatakan akan hilang saat sudah menikah dan punya anak. Ini bisa jadi nyeri haid primer," kata Relly Yanuari Primariawan, dalam talkshow kesehatan untuk awam "Laporoscopy  For Endrometriosis", pada Minggu, 14 April 2019.

Untuk faktor resiko, menurut Relly Yanuari, nyeri haid primer dialami wanita usia kurang dari 30 tahun, perokok, mens pertama kurang dari 12 tahun, mens lebih dari 7 hari, hingga menstruasi banyak serta tidak teratur. 

"Nyeri haid primer terjadi karena lepasnya hormon prostaglandin akibat lepasnya endometrium sehingga menimbulkan kontraksi. Dan kontraksi terjadi 4 sampai 5 kali setiap 10 menit," ujar Relly Yanuari dalam paparannya. 

Terapi yang bisa dilakukan, kata Relly Yanuari untuk nyeri haid primer ialah kontrasepsi hormonal seperti minum obat pengilang rasa nyeri atau mengkonsumsi pil Keluarga Berencana (KB).

"Biasanya orang binggung kalau anaknya belum menikah disuruh minum pil KB, tapi itu sebuah pengobatan yang bisa dilakukan untuk nyeri haid," lanjut Relly Yanuari. 

Namun, bila sudah dilakukan pengobatan tapi tetap merasa nyeri, ujar Relly Yanuari mungkin nyeri tersebut termasuk nyeri haid sekunder. 

"Nyeri sekunder biasanya disebabkan karena adanya gangguan dalam rahim seperti endometriosis, Adenomyosis atau kista ovarium. Jadi harus diwaspadai apalagi saat nyeri tetap terjadi setelah menikah dan punya anak," imbuhnya.

Relly Yanuari menambahkan sebagai perempuan harus lebih peka terhadap nyeri haid, bila memang rasa nyeri menggangu segera hubungi dokter agar dilakukan upaya-upaya untuk meringankan rasa nyeri atau  melakukan pemeriksaan lebih lanjut. (pita)

 



Bagikan artikel ini