Kenali Stunting, Penyebab hingga Cara Pencegahannya

03 Dec 2018
Ilustrasi.

Data dari WHO (World Health Organization) menyebutkan 35,6 persen balita inodnesia terkena stunting. Tercatat 7,8 juta dari 23 juta balita adalah penderita stunting. Namun sebagian masyarakat indonesia tak begitu akrab dengan istilah stunting. 

Menurut ahli gizi Prof. Dr.  Merryana Adriani, S. KM., M. Kes, stunting merupakan pertumbuhan yang terhambat akibat gizi buruk dan disertai keadaan patologis (disertai gangguan kesehatan lainnya) seperti infeksi. 

"Infeksi yang dimaksud ialah infeksi saluran pernafasan seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan atas),  pheunomenia, diare. Dan hal ini terjadi secara akut serta terus-menerus," ujar guru besar Universitas Airlangga (Unair) ini.

Merryana menjelaskan, infeksi yang terjadi pada anak akan menghasilkan sejumlah senyawa organik hasil sekresi sel yang berpengaruh pada sel lain (Sitokin). Sitokin akan menekan hormon GH (Growth Hormone) berpengaruh pada sel otak juga hormon IGF -1 (Insulin growth factor) yang mempegaruhi pertumbuhan tulang panjang. 

"Maka dari itu balita yang stunting cenderung bertubuh pendek, memiliki daya tangkap yang minim serta IQ (Intelegent Quotient) rendah dan tak sesuai dengan anak seusianya," ungkapnya.

Dia juga menambahkan faktor penyebab stunting sangat beragam. Seperti kurangnya asupan disaat ibu menggandung dan berlanjut pada usia 0-2 tahun. 

"Seribu hari masa kehamilan harus diperhatikan betul oleh sang ibu, dari mulai faktor psikologis sang ibu yang harus merasa tenang, serta asupan-asupan yang masuk juga tidak boleh ada yang kurang seperti protein, zat besi, zing,  dll. " kata dia.

"Setelah anak dilahirkan pada fase golden age (usia emas) usia 0-5 tahun asuapan gizinya harus diperhatikan. Di usia 0-2 tahun sel otak akan perkembang sempurna di usia ini jika asupannya terpenuhi,  2-5 tahun perkembangan organ lain dalam tubuh. Yang paling penting di usia golden age ini jangan sampai anak terkena infeksi," tambahnya.

Selain faktor asupan, menurut Merryana, faktor sanitasi atau penerapan pola hidup bersih dengan menjauhi bahan buangan berbahaya juga sangat penting.  Karena sanitasi yang baik akan menununjang tumbuh kembang anak dengan baik pula sebaliknya jika sanitasi buruk dan tercemar kehidupan anak juga akan terpapar bakteri-bakteri yang terkandung didalamnya, bakteri ini dapat mengakibatkan infeksi. 

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair ini juga memaparkan hal apa yang harus diperhatikan untuk menghindari stunting. 

"Pertama hindari infeksi pada anak usia golden age, berikan asupan makanan yang baik, juga berikan hak anak yaitu ASI (air susu ibu)  secara eksklusif. Ini hal yang penting diperhatikan," pesanya

Dia juga menambahkan jika pemerintah ingin pencegah dan menekan angka stunting di indonesia, pemerintah harus memperhatikan beberapa faktor mulai dari ibu mengandung, masa nifas setelah melahirkan, ibu menyusui, MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang diberikan ke balita usia 0-5 tahun. 

"Semua sektor seperti pendidikan, instansi pendidikan juga media harus ikut mengedukasi tentang stunting agar masyarakat juga dapat mengetahui dan memahaminya," imbuhnya. (pts)

 



Bagikan artikel ini