Kekerasan Remaja Faktor Kurangnya Pengetahuan dalam Menyelesaikan Masalah

12 Apr 2019
Ilustrasi #JusticeforAudrey (Foto: Google)

Tindak kekerasan remaja pada remaja lainnya, belakangan menjadi sorotan banyak pihak. Seperti kasus siswi SMP di Pontianak, Audrey, diduga dikeroyok 12 orang siswa SMA yang viral di media sosial. Apa penyebab remaja rawan melakukan kekerasan terhadap remaja lainnya?

Psikolog Sosial Achmad Chusairi mengatakan kekerasan terhadap remaja memang cenderung lebih ke personal masing-masing remaja tersebut. 

"Orang melakukan kekerasan adalah orang yang tidak mampu untuk melakukan relasi sosial secara sehat dan tidak mempunyai cara mengelola permasalah dengan baik selain dengan kekerasan," ujar Achmad Chusairi.

Sebenarnya, kata Achmad Chusairi, banyak pilihan cara untuk mengelola permasalah dengan orang lain. Hal ini tentu saja tergantung dari bagaimana seseorang tersebut, dibesarkan dan melihat contoh menyelesaikan masalah dari lingkungan sekitarnya. 

"Biasanya perilaku kekerasan dipilih, karena orang tersebut tidak melihat cara lain, atau tidak belajar cara lain dalam mengatasi sebuah masalah. Akhirnya dia mengunakan kekerasan untuk mencapai tujuan," ungkap dia. 

Achmad Chusairi juga menjelaskan sikap kekerasan yang muncul pada diri seseorang didasari oleh respon terhadap stimulus. Terutama untuk jalan keluar. 

"Biasanya orang-orang seperti ini terbiasa dengan kekerasan, atau hidup dalam keadaan yang dominan perilaku kekerasan," imbuhnya.

 

Achmad Chusairi menambahkan, kenapa kekerasan cenderung sikap yang diambil oleh remaja. Berdasarkan teori masa remaja akhir antara usia 17 sampai 19 tahun, adalah masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa. 

"Artinya mereka punya kesadaran dalam mengambil keputusan. Karena masa transisi inilah serta didorong faktor tidak cukup banyak belajar untuk mengetahui cara menyelesaikan masalah mereka mengambil jalan kekerasan," jelas Achmad Chusairi. 

Namun, lanjut Achmad Chusairi tidak semua remaja di usia tersebut mengambil kekerasan sebagai jalan keluar. Kembali lagi pada lingkungan sosial dan cara bagaimana seseorang tersebut dibesarkan. 

Untuk penanganan, menurut Achmad Chusairi harus di titik beratkan pada orangtua dan sekolah. Bagaimana orangtua dan sekolah tidak lagi menuntut nilai akademis yang baik, juga mempersiapkan pendidikan moral yang baik. 

"Meskipun memang sekarang sudah banyak sekolah yang merubah cara belajarnya dengan menekankan pendidikan moral. Ini masalah ekonomi saja," katanya. 

Hal yang terpenting saat ini, pesan Achmad Chusairi, bagaimana orangtua dan sekolah memberikan contoh yang baik dan mengenalkan cara yang baik pula dalam menyelesaikan suatu masalah. (pita)



Bagikan artikel ini