Disfungsi Ereksi Bisa Sebabkan Hubungan dengan Pasangan Terganggu

06 Dec 2018
Dokter spesialis andrologi dr. Susanto Suryaatmadja saat memberikan edukasi tentang mitos dan fakta disfungsi ereksi, Rabu 5 Desember 2018. Foto: Pitasari/ sapadokter.

Disfuksi ereksi (DE) adalah ketidakmampuan untuk ereksi saat hubungan seksual. Penyakit ini memang terjadi pada laki-laki di berbagai usia. Namun, pada kenyataannya pengaruhnya tidak hanya dirasakan oleh penderita tapi juga pada pasangan.

Dokter spesialis andrologi dr. Susanto Suryaatmadja MS, Sp.And dalam acara edukasi media bertajuk Mitos dan Fakta Disfungsi Ereksi, mengatakan bahwa disfungsi ereksi pada pria akan menyebabkan frustasi dan rendahnya kepercayaan diri hingga menyebabkan depresi, akhirnya hubungan pribadi dan sosial ikut terganggu. 

"Biasanya ini terjadi karena penanganan yang tidak tepat, dan mencoba mengobati diri sendiri dengan obat-obatan sembarangan ini. Padahal yang paling benar adalah pengobatan dengan tenaga medis yang bertanggung jawab," ungkap dokter yang membuka praktek di Rumah sakit Adi Husada dan RSUD Soetomo ini.

Susanto mentuturkan disfungsi ereksi dibagi dalam dua tipe yaitu psikis dan organik,  sesuai dengan penyebabnya. "Psikis biasanya dikarenakan stress atau banyak pikiran dan tekanan dari orang terdekat. Sedangkan organik bisa karena pola makan atau gangguan penyakit lainnya yang menyebabkan impoten. Bisa juga kombinasi antara keduanya," jelasnya.

Penyakit yang berhubungan dengan hormon, pembuluh darah, syaraf, dan otot akan dapat memperbesar seseorang terkena disfungsi ereksi. Karena akan menyumbat aliran darah pada alat kelamin sehingga tidak bisa berereksi.

DE memiliki gejala antara lain sulit untuk dapat berereksi, sulit untuk mempertahankan ereksi selama aktivitas seksual atau tidak bisa ereksi sama sekali. Jika gelaja tersebut sudah Anda rasakan, Susanto menyarankan untuk datang berkonsultasi pada dokter. 

"Biasanya orang itu besar kemaluannya dari kemauannya, sehingga malu untuk berkonsultasi padahal penyakit ini harus di ketahui dulu penyebabnya apa baru bisa diobati dengan tepat," tutupnya. (pts)

 



Bagikan artikel ini