Dini Dharmawidiarini, Dokter Pertama yang Lakukan Teknik Lamellar Kerotoplasty Cangkok Kornea

13 Dec 2018
dr. Dini Dharmawidiarini, SpM (K).

Dahulu teknik operasi pencangkokan kornea mata dilakukan dengan teknik Penetrating Keratoplasty, yaitu mengganti seluruh lapisan kornea mata. Sekarang dengan perkembanganya ilmu pendidikan dan teknologi, dikembangkan teknik lain yang bernama Lamellar Keratoplasty. Teknik ini hanya mengganti lapisan kornea mata yang rusak saja bukan seluruhnya. 

dr. Dini Dharmawidiarini, SpM (K) dari Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya (RSMU), merupakan dokter mata pertama di Indonesia bagian Timur yang berhasil menggunakan teknik Lamellar Keratoplasty dalam operasi pencangkokan kornea mata. 

Ketertarikannya menjadi dokter mata sudah ada sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Menurutnya mata adalah indra yang unik. "Benda sekecil itu bisa membuat kita melihat seluruh isi dunia," ujarnya saat ditemui sapadokter.com di ruang praktek RSMU.

Dini menuntut ilmu kedokteran sekaligus pendidikan spesialis matanya di Universitas Airlangga Surabaya. Setelah lulus dan menerima gelar sebagai dokter speliasis mata pada 2009, dia langsung bekerja di John Fawcett Foundation Bali, merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang membantu pengobatan mata dengan cara memberikan pelayanan operasi katarak secara gratis kepada orang kurang mampu. 

"Dari sini saya belajar mental dalam melakukan operasi, karena disini saya dituntut untuk memberikan yang terbaik dalam keterbatasan sarana yang ada," terang dokter dengan sub spesialis bedah kornea dan refraksi ini. 

"Bayangkan saja yang melakukan operasi di dalam mobil, karena kita berkeliling ke beberapa daerah untuk menjemput pasiennya," lanjut Dini.

Setelah satu tahun menjadi sukarelawan di John Fawcett Foundation, Dini tetap melanjutkan aktivitas sosialnya sambil membuka praktek di Rumah Sakit Ganesha Bali.

Setelah melakukan pekerjaan ganda selama kurang lebih lima tahun, ia pun memutuskan bergabung dengan Rumah Sakit Siloam Bali, yang tak lama kemudian juga ia tinggalkan dan memilih hijrah ke Surabaya mengingat seluruh keluarganya juga berada di Kota Pahlawan.

Perempuan kelahiran Surabaya, 1 Agustus 1977 ini pun menerima tawaran dari RSMU untuk bergabung.  Dari sinilah Dini memutuskan untuk belajar cangkok kornea mata. Ia pun mengambil program belajar selama 3 bulan tentang teknik Lamellar Keratoplasty di Jakarta Eye Center.

Merasa tak cukup puas dengan ilmu yang didapatnya, Dini pun memutuskan pergi ke India untuk kembali menimba ilmu tentang cangkok mata, tepatnya di Apollo Hospitals di Kota Hyderabad, India.

"Disana saya lebih banyak belajar praktek dari pada materi dengan Dr. Rajesh Fogla, salah satu dokter speliasis bedah kornea terbaik di dunia," ceritanya.

Selain belajar tentang teknik cangkok kornea mata, Dini juga mempelajari tentang sistem donor mata pada bank mata di negara tersebut secara mandiri. 

Setelah kepulangannya dari India tahun 2017, Dini langsung mendapat kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat.

Operasi pencangkokan kornea mata pertamanya dengan teknik Lamellar Kerotiplasty dilakukan pada wanita berusia 40 tahun dengan gangguan kornea bawaan dari lahir.

"Perasaan saya tegang waktu itu, takut orangnya tidak jadi, takut gagal dan sebagainya. Tapi alhamdulilah berjalan lancar," kenang Dini.

Sampai sekarang sudah ada 25 lebih kasus operasi cangkok kornea yang ia lakukan, dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Dari 25 kasus tersebut, ada satu kasus yang paling berkesan menurut Dini.

"Ada seorang wanita dengan usia produktif yang buta karena bawaan dari lahir, tapi dia tak punya uang untuk operasi. Akhirnya saya menghubungi bank mata, dan bisa mendapat donor charity (sumbangan) yang hanya mengganti ongkos kirim saja. Saya lakukan operasinya dan sekarang dia bisa melihat lebih baik lagi," ujarnya.

Teknik cangkok kornea ini masih minim di Indonesia karena pendonornya diambil dari luar negeri. Sehingga biayanya mahal. "Donor didapatkan melelui bank mata Indonesia di Kirana RSCM Jakarta. Donor kornea diperoleh dari Filipina," jelas Dini.

Teknik cangkok kornea ini masih minim di Indonesia karena pendonornya diambil dari luar negeri. Sehingga biayanya mahal. "Donor didapatkan melalui bank mata Indonesia di Kirana RSCM Jakarta. Donor kornea diperoleh dari Filipina," jelas Dini. (pts)

 



Bagikan artikel ini