Berbohong, Sumbernya Bisa dari Kepribadian Kita Loh

07 Oct 2018
Foto: Google

Ratna Sarumpaet akhirnya mengadakan konferensi pers  pada Rabu (3/10). Ia memberi penjelasan mengenai kejadian sebenarnya dan meminta maaf atas keboohongan yang telah ia buat. Seperti diketahui, beberapa hari lalu Ratna Sarumpaet telah membuat geger karena kabar dikeroyok massa. Pada konferensi tersebut Ratna mengaku, bahwa bukanya dikeroyok massa, lebam di wajahnya adalah karena operasi plastik.

Kebohongan yang dilakukan turut memberikan pelajaran kepada kita, bahwa kebohongan memang tidak akan pernah benar, apapun tujuannya. Tak hanya merugikan orang lain, berbohong tentu sangat merugikan diri sendiri. Hilangnya kepercayaan orang terhadap apa yang keluar dari mulut kita, akan berdampak pada kredibiltas kita, seberapapun berprestasinya kita sebelum melakukan kebohongan.

dr Tjipto Sp.KJ menjelaskan, ada beberapa kondisi yang bisa menyebabkan seseorang berbohong. Berada dalam situasi terdesak dan tidak siap atau mau menerima kenyataan bisa menjadi penyebab seseorang berbohong.

“Mungkin contohnya seperti yang dilakukan Bu Ratna. Kebohongan itu kan awalnya ia sampaikan ke kalangan keluarga saja. Mungkin beliau merasa malu kalau keluarganya tahu – diusianya – melakukan operasi plastik. Sehingga ia membuat cerita, untuk alasan. Sehingga operasinya tidak diketahui,” tutur dr Tjipto.

Namun di luar itu, ada hal mendasar yang membuat seseorang memiliki kecenderungan berbohong. Yaitu kepribadian. Orang yang memiliki kepribadian psikopat, histrionic, narsistik, ambang, dan malingering adalah yang berpotensi lebih besar melakukan kebohongan. Menurut penjelas dr Tjipto, orang-orang yang psikopat biasanya cenderung antisocial. Orang-orang dengan kepribadian seperti ini akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya. Entah itu yang melanggar aturan, norma, apalagi berbohong.

Orang berkepribadian histrionik dan narsistik  yang biasanya terlihat bergairah, juga memiliki potensi lebih untuk melakukan kebohongan. Pemilik kepribadian histrionic, biasanya akan berbohong untuk mencari perhatian. Mereka yang narsistik, biasanya akan berbohong ketika mereka merasa ditinggalkan.

Kepribadian ambang yang cukup berbahaya, karena ini mengarah pada gangguan jiwa. Kepribadian inimerupakan perpaduan antara jenis kepribadian histrionik dan narsistik. Pemilik keprobadian ini juga cenderung impulsif. Maka tidak heran, kalau orang yang berkepribadian ambang, biasanya akan melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang menuduh temannya, lalu diceritkan pada teman lainnya. Walaupun tuduhannya adalah kebohongan belaka.

Terakhir, jenis kepribadian malingering. Mereka yang memiliki kepribadian ini cenderung berbohong untuk mencari keuntungan diri sendiri. Namun berbeda dengan jenis kepribadian psikopat, yang sampai rela melanggar aturan dan norma. Kebohongan yang dilakukan oleh pemiliki kepribadian malingering, tidak sampai seperti itu.

 Menurut dr Tjipto, kepribadian ini dapat terbentuk karena beberapa faktor. Pertama faktor keturunan, selanjutnya pola asuh orang tua, lingkungan (pertemanan), dan pendekatan spiritual keluarga adalah yang dapat membentuk kepribadian seseorang. Sehingga, menghindarkan seseorang dari perilaku suka berbohong, baiknya dilakukan sejak ia kecil. Lebih baik lagi sedini mungkin.

Namun, apabila sesorang sudah terlanjur menjadi pembohong. Suka atau sering melakukan kebohongan, maka pengobatan secara psikologis perlu dilakukan untuk menghentikannya. Secara psikologis, ada metode psikotheraphy dan mainfulness yang dapay digunakan untuk menghentikan kebiasaan berbohong pada seseorang. Namun, dalam proses penyembuhannya yang perlu digaris bawahi adalah kesadaran dan kemauan penderitanya untuk berhenti berbohong.

“Ada metode penyembuhan untuk mereka yang suka bahkan sering berbohong. Anak-anak usia remaja yang biasanya melakukan itu. Sering, ibu-ibu daaing ke psikolog untuk mengobatkan anaknya yang gemar berbohong. Keluhan yang sering terjadi, anaknya keluar – pamitnya belajar, padahal di luar main,” cerita dr Tjipto.



Bagikan artikel ini